Lobar Kejar Target Penurunan Stunting 14% Pada Tahun 2024, Gardu Santun Harap Dihidupkan Kembali

Lombok Barat, TripatNews – Pertemuan Konvergensi Stunting di Kabupaten Lombok Barat (Lobar) kembali digelar di Ruang Jayangrane, Gerung, Lobar, Senin (27/12/2021).

Kegiatan ini di inisiasi langsung oleh Bupati Lobar H. Fauzan Khalid dalam upaya menurunkan angka stunting di Kabupaten Lobar. Kegiatan ini dihadiri oleh Sekda Lobar H. Baehaqi, Asisten I, II dan III, serta Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) drg. Hj. Ni Made Ambaryati, bersama Kepala Bidang (Kabid) Kesesehatan Masyarakat (Kesmas) H. M. Abdullah, dan semua Kepala Dinas/OPD terkait dan semua Camat se Lobar.

“Pemkab Lobar akan membentuk Satgas Stunting, ini dilakukan untuk memastikan langkah-langkah strategis yang agar penurunan angka stunting di Kabupaten Lobar ini terus turun dan kalau bisa kita percepat penurunan angkanya dengan melibatkan semua pihak,” kata Bupati.

Menurutnya, “Mungkin masyarakat kita sekarang ini lebih menilai keberhasilan seorang pemimpin dari pembangunan fisik yakni hotmix jalan, bangunan dan lain sebagainya. Tetapi cenderung mengabaikan hal-hal seperti Stunting dan Gizi Buruk, padahal ini sangat menentukan nasib masyarakat, daerah, negara dalam jangka menengah dan panjang,” jelasnya.

Ia juga meminta, “pertemuan ini betul-betul ditindak lanjuti, terutama bagi enam dinas terkait yakni Dinas PUTR, Perkim, Pendidikan dan Kebudayaan, Departemen Agama, Dinas Sosial, dan Dinas Ketahanan Pangan, yang dianggap berkaitan secara langsung dengan penanganan stunting ini,” pintanya.

Ia juga berharap, “kita jangan hanya memandang ini dari sisi tugas pemerintahan saja, tetapi juga dipandang sebagai tugas kemanusiaan untuk menyiapkan generasi yang unggul ke depannya. Dari sisi namanya Gerakan Terpadu Penuntasan Stunting (Gardu Santun) dan bisa saja nama yang ini kembali dihidupkan. Tetapi sekali lagi penting juga masukan, bagaimana sistem kerjanya yang bisa dilakukan. Termasuk bagaimana satgas ini melibatkan unsur-unsur luar di luar pemerintahan seperti unsur LSM, komunitas, pemuda dan seterusnya,” harapnya.

Dalam Kesempatan yang sama Kabid Kesmas Dikes Lobar menyampaikan, “terkait Intervensi OPD Lobar untuk Penurunan Stunting Tahun 2022 – 2024, menunjukkan data penurunan kasus stunting di Lobar yakni pada angka 22,57%. Ini menunjukan Lobar sedang menyongsong era Bonus Demografi tahun 2035 yang akan berdampak pada peningkatan produktivitas penduduk. Bonus demografi sangat menguntungkan bila penduduk usia produktif berkualitas (sehat, berpendidikan tinggi, terampil, kompeten),” jelasnya.

“Upaya Penurunan stunting mengacu pada penanganan penyebab masalah gizi, yaitu faktor yang berhubungan dengan ketahanan pangan khususnya akses terhadap pangan bergizi (makanan), lingkungan sosial yang terkait dengan praktik pemberian makanan bayi dan anak (pengasuhan), akses terhadap pelayanan kesehatan untuk pencegahan dan pengobatan (kesehatan), serta kesehatan lingkungan yang meliputi tersedianya sarana air bersih dan sanitasi (lingkungan). Keempat faktor tersebut mempengaruhi asupan gizi dan status kesehatan ibu dan anak. Intervensi terhadap keempat faktor tersebut diharapkan dapat mencegah masalah gizi, baik kekurangan maupun kelebihan gizi,” terangnya.

Selain itu, “Untuk mengatasi stunting, dibutuhkan peran aktif seluruh pihak (lintas sektor, masyarakat, dunia usaha, lembaga non Government). Jajaran kesehatan bertanggung jawab untuk melakukan intervensi spesifik (kontribusi hanya 30% utk mengatasi stunting), sedangkan pihak lintas sektor, masyarakat, NGO, Pemerintah Desa, dunia usaha bertanggung jawab melakukan intervensi sensitif (kontribusi 70% utk mengatasi stunting). Kabupaten Lobar mentargetkan penurunan stunting menjadi ≤ 14% di tahun 2024. Hal yang sama juga tertuang dalam rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2019-2024 yaitu sebesar 14 %. Kerja keras Pemerintah Kabupaten Lobar untuk menekan angka prevalensi stunting dari tahun ketahun menunjukkan progress yang cukup baik. Dari data yang ada pada tahun 2020 memperlihatkan hasil kerja konvergensi yang menggembirakan. Dimana bulan februari 2020 prevalensi stunting sebesar 29,83%, dan bulan agustus 2020 menurun menjadi sebesar 29,53 %. Satu tahun kemudian 2021 kembali menunjukkan hasil yang yakni bulan Pebruari 2021 sebesar 27,74 %, dan bulan Agustus 2021 mengalami penurunan menjadi sebesar 22,57%. Adapun persentase desa di Lobar yang mengalami penurunan prevalensi stunting tercatat sebanyak 74,6 % dari seluruh desa yang ada sebanyak 122 desa & kelurahan,” Tutupnya. (YL)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.